Muhammad_Akif

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 27-08-2009 , dipetik dari http://www.al-ikhwan.net/ramadhan-bulan-perubahan-dan-kemerdekaan-serta-kembalinya-al-aqsha-kepangkuan-umat-islam-3063/

Bahwa dunia Islam saat ini sedang mengalami hari-hari yang memilukan, periode yang terpisah jauh dengan sejarah perjalanan masa lalunya, dan pada kondisi ini, banyak terjadi apa yang direncanakan dan dialami baik pada waktu malam dan siang harinya; terutama sejak zionis berfikir untuk menjadikan bumi Palestina sebagai negara bagi mereka, dengan didukung oleh Barat, dan sejak mereka menanamkan racun dalam tubuh umat Islam sehingga ujian pun terus datang silih berganti, karena itulah perang tidak pernah berhenti dan berlalu; (seperti tahun 1956-1967-1973, pembantaian di Lebanon pada tahun 1982, perang di Afganistan tahun 1979, penjajahan Iraq tahun 2003, perang di Lebanon 2006, dan bumi hangus Gaza tahun 2008-2009), sebagaimana diselingi akan dosa-dosa yang begitu besar adanya usaha melakukan pembakaran masjid Al-Aqsha pada waktu sebelumnya, dan berusaha untuk menghancurkannya guna mendirikan Haikal di bawah reruntuhannya.

Kemudian kejahatan lebih besar juga datang dengan adanya tekanan Amerika akan pentingnya pengakuan terhadap keberadaan Yahudi sebagai negara Zionis oleh dunia secara umum dan negara-negara Arab secara khusus… sampai mereka mengutamakan menjadikan dua Palestina dengan negara-negara kecil sebagai bentuk daerah yang terisolir, tidak memiliki pemimpin dan warga terpisah.

Mereka semua berusaha membangun dan mendirikan negara Yahudi sebagai duri di tubuh Bangsa Arab dan umat Islam, dan pada waktu yang sama mereka berusaha menghapus simbol-simbol Islam dari undang-undang negara Islam. Namun ironinya, dari mayoritas negara Islam yang ada, tidak berfikir untuk membangun Islam hidup kembali dengan sepenuhnya melalui nilai-nilai, akhlaq, syariat serta karakternya kecuali mereka berusaha untuk memendam dan mengubur fikrah tersebut dalam buaiannya… sekalipin zionis pergi ke kanan dan ke kiri namun tidak mendapatkan api perang yang dapat dikobarkan kecuali diatas bumi umat Islam… Palestina yang tercinta, Iraq yang terluka, Afghanistan yang terus menderita akibat parang yang tak kunjung akhir, serta Somalia yang terus bergelora.. Sudan, Pakistan, Kashmir dan lain-lainnya.

Ini baru dari satu sisi, sementara dari sisi lain kita melihat bahwa negeri-negeri Islam sedang tertimpa kegelapan (kezhaliman) secara signifikan, kediktatoran yang menggejala, kebebasan yang terpasung, pemerintah yang hidup dalam kemewahan, di tengah bangsa dan umatnya yang menderita akibat kemiskinan dan kenestapaan, kebodohan yang mengakar, penyakit yang kronis, sehingga kehidupan perekonomian hancur dan proyek-proyek ekonomi negara seakan menjadi bagian dari kapitalisme asing, pengangguran kian meningkat, sementara tarbiyah dan ta’lim dengan berbagai lembaga-lembaganya tidak mampu memberikan pengajaran dan pendidikan maksimal, begitu pula dengan lembaga-lembaga kesehatan tidak menjadi bagian untuk memberikan perannya.

Ditambah pula jika kita menolehkan wajah ke bagian lain, maka apa yang kita dapatkan; keadilan di kebiri, kemaksiatan dan kejahatan merajalela, kemesuman menjadi bahagian yang biasa, sementara kemuliaan dihiraukan, nilai-nilai yang murni yang menjadi bagian dari kehidupan umat Islam hampir saja punah, dan berusaha diganti dengan nilai-nilai yang mereka buat sendiri sehingga tidak menambah kebaikan kecuali kehinaan dan kehancuran.

• ini semua menggugah kita untuk berfikir bagaimana caranya memberikan solusi yang benar dan tepat bagi negara kita?

• Bagaimana caranya mengembalikan kemuliaan kita dan menjadikan kita memiliki satu kata dalam negeri kita?

• Bahkan bagaimana caranya membentuk kesatuan umat yang tegak berdiri diatas risalah Islam, mampu menunaikan tugasnya dalam menyebarkan keadilan, rahmat, kemerdekaan dan persamaan sesama umat manusia?!

Konstitusi Global untuk melakukan perubahan

Bahwa Allah SWT telah menetapkan dalam kitab-Nya yang mulia akan konstitusi global dalam rangka melakukan perubahan; seperti dalam firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

dan Allah juga berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal:53)

Jadi titik tolak untuk melakukan suatu perubahan itu adalah diri manusia itu sendiri, karena jika jiwa tersebut mengenal Tuhannya, baik jiwanya dan lurus pada syariat-Nya maka niscaya Allah akan memuliakannya dan memberikannya kejayaan:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55)

Namun jika jiwa berbalik dari arahnya, mengingkari syariat Tuhannya, berpecah belah menjadi berkelompok dan berpartai-partai; maka kegagalan akan ditemui pada masa depannya, lemah kekuatannya dan pada selanjutnya akan hilanglah kemuliaan dan jati dirinya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal:46)

Dan sejarah menjadi saksi akan kebenaran konstitusi ini, bahwa Arab sebelum Islam merupakan kabilah-kabilah yang terpecah belah, saling perang, saling melakukan pembunuhan, kiblat mereka terbagi pada Persia dan Romawi, namun setelah Islam datang, maka yang terpecah menjadi bersatu, yang saling membunuh dan perang menjadi baik dan saling damai, dan mereka menjadi satu umat: Allah Tuhannya, Muhammad Rasul dan nabinya, Al-Qur’an kitabnya, Kiblat arah ibadahnya, serta menjadikan mereka dalam satu barisan; baik dalam shalat dan menghadapi musuh, bahkan mampu menyatukan Arab, Persia, Romawi, Habsyah, warna kulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin.

Tubuh yang baru ini bagi Umat Islam mampu dalam seperempat abab menyebarkan keadilannya dan rahmatnya, membersihkan manusia dari kejahatan dan kebiadaban Persia dan memberikan kepada manusia akan kebebasannya:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barangsiapa yang berkehendak, maka hendaklah beriman dan barangsiapa yang ingin silahkah ingkar” (Al-Kahfi:29)

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama Islam”. (Al-Baqarah:256)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (Yunus:99)

Dan jadilah kepemimpinan dan kekuasaan untuk mereka pada masa dan abad yang lama. Namun ketika hubungan mereka dengan Islam merenggang dan jauh; tampak ditengah mereka perpecahan parsialisme; oleh karena ketamakan orang-orang yang ada didalamnya terutama mereka yang senang merampas dan menjajah, mengambil segala kekayaannya, dan pada akhirnya Al-Aqsha jatuh ke tangan-tangan mereka pada tahun 492 H, dan ketika Allah SWT berkehendak untuk mengembalikan lagi, maka diutuslah dari orang pilihan umat Islam yang mampu menyatukan antara Mesir dan Syam, dan memiliki semangat yang penuh dan hubungan yang kuat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang mampu mengembalikan Al-Quds dan masjid Al-Aqsha pada tahun 582 H ke pangkuan umat Islam.

Dan pada hari ke sepuluh dari bulan ramadhan, ketika para tentara Allah bergerak sambil mengumandangkan takbir Allah Akbar, Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk dapat melintasi terusan Suez dan memasuki kota Sinai.. begitupun pada perang Al-Furqan terakhir kali di Gaza juga mampu memukul mundur zionis sehingga mereka mengalami kehinaan karena tidak mendapatkan keinginan sedikitpun..

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Dan Sunnguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya, karena sesungguhnya Allah Maka Kuat dan Maha Perkasa”. (Al-Hajj:40)

Ramadhan; bekal untuk berubah dan amunisi menuju kemenangan

Betapa agungnya bulan ramadhan yang mulia ini!! Betapa besar pengaruh dan dampak positif yang dapat diterima oleh setiap jiwa umat Islam; menuju peningkatan ruhi diatas materi dan menghubungkannya dengan sang pencipta dan memperkokoh ikatan dengan Zat yang memiliki dan mengusai kerajaan langit dan bumi.. maka dari itu pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini, umat Islam mendapatkan kenikmatan melalui shiyam (puasa), qiyam, tilawah Qur’an dan pendekatan diri kepada Allah pada saat I’tikaf… dan kesemu itu merupakan sarana tarqiyah (peningkatan) diri seorang muslim.

1. Puasa dan kekuatan kehendak

Pada ibadah puasa terdapat pengokohan kehendak dan pembinaan akan kesabaran; melalui pencegahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang dapat membatalkan walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya, tidak ada yang mengiringinya kecuali hatinya, dan tidak yang disandarkan kecuali kehendaknya yang kuat dan penuh kesadaran.

Karena itulah bulan ramadhan disebut dengan bulan kesabaran, seperti yang disebutkan dari Abu Hurairah ra berkata; Rasulullah saw bersabda:

لكل شيءٍ زكاة، وزكاة الجسد الصوم، والصوم نصف الصبر

“Setiap sesuatu pasti ada zakatnya, dan zakat tubuh adalah puasa, dan puasa adalah bagian dari kesabaran”. (Ibnu Majah)

Puasa dengan apa yang ada di dalamnya; kesabaran dan pengekangan jiwa; merupakan inti sarana Islam dalam mempersiapkan seorang muslim untuk teguh dan sabar, memiliki ikatan (komitmen) yang kuat dan menjadi mujahid yang tangguh;  yang siap dan mampu menahan kondisi miskin, lapar dan hidup sederhana, siap berada dalam kondisi keras (perang), sengsara dan kerasnya kehidupan, karena barangsiapa yang mampu memenangkan jiwanya maka terhadap yang lainnya juga akan mampu dihadapi, dan barangsiapa yang mampu sabar dalam kondisi lapar dan haus maka pada saat dikepung oleh musuh dan segala cobaan hidup lain yang lebih keras darinya akan lebih mampu dihadapi.

Dan begitu pula tidak akan mampu menuntut kemerdekaan dan kembalinya hak-hak yang hilang dan tegar berdiri dihadapan para durjanan yang diktator kecuali bagi orang-orang yang memiliki bekal keimanan yang kokoh, azimah yang kuat , semangat yang tinggi; sehingga membuat dirinya tidak akan pernah takut dengan berbagai kezhaliman yang dialami, tidak akan berputus asa sekalipun jalan menuju kemenangan begitu panjang, tidak merasa lemah dan merasa hina dari berbagai hambatan dan kesulitan yang dihadapan, bahkan keteguhan dengan haknya terus meningkat dan perasaannya akan kemuliaan jiwa yang terus menguat:

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran:139)

Dan firman Allah:

فَلاَ تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”. (Muhammad:35)

2. I’tikaf merupakan sarana peningkatan diri dekat dengan Allah

Pada bulan Ramadhan disunnahkan melakukan I’tikaf; yang merupakan pembentuk  jiwa yang sangat penting sekali, bagian dari berkhalwah dengan Allah, di dalamnya para pencari kebaiakan dan perbaikan bersemangat untuk mengishlah (memperbaiki) hati-hati mereka, melalui pemutusan langsung yang disertai penerimaan secara total akan kewajiban shalat, tilawah Qur’an, dzikir dan meninggalkan berbagai kesibukan, ucapan yang tiada guna, makan dan minum serta tidur. Demikianlah kehidupan Rasulullah saw; dari Abu Hurairah ra berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

“Bahwa Nabi saw beri’tikaf pada setiap bulan Ramadhan di sepuluh hari terakhir, dan pada saat tahun terakhir hidup beliau beliau beri’tikaf selama 20 hari”. (Bukhari), Karena itu barangsiapa yang mau mernerima Allah dengan hatinya dan memutuskan hubungan dengan selainnya maka Allah akan memberikan dukungan-Nya kepadanya, memberikan taufiq dan kemenangan-Nya.

3. Al-qur’an merupakan ruh (spirit) yang mengalir dalam hati sehingga mampu menghidupkannya

Imam Al-Banna berkata: telah datang bersama Ramadhan untuk manusia seorang nabi dan kitab (Al-Qur’an), yang mampu memberikan kebangkitan besar pada diri manusia seperti yang masyhur terjadi, memnyempurnkan risalah terbesar seperti yang telah disaksikan oleh dunia; bahwa nabi saw, kitab Al-Qur’an Al-Karim serta risalah merupakan sarana pembentuk agama, penghidup jiwa-jiwa umat, pendiri suatu Negara, tugasnya di dunia ini adalah menyatukan dunia dibawah bendera prinsip kemuliaan, nilai-nilai yang suci dan kebaikan-kebaikan Insan yang kekal

لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ. اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ

“Supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi”. (Ibrahim1-2)

Dan nabi pun telah menyampaikan risalahnya dan membacakan kitabnya kepada umat manusia, sehingga jazirah Arab tunduk kepadanya dan hancur singgasana kekaisaran! Memangkas habis naungan istanan kekaisaran, menyebar luas bendera Al-Qur’an dan prinsip-prinsipnya, pada kekuasan yang menyebar dari daratan Cina hingga dar el-baidha, dari jantung kota Perancis hingga ujung Afrika, dan umat manusiapun berbondong-bondong masuk Islam.

Namun, Kemudian apa? Kemudian runtuhlah Negara tersebut, terpangkas habis naungan yang begitu lebar dan luas, oleh karena acuh terhadap ajaran Islam, berlomba-lomba pada singgasana dan dunia, husnudzan yang tinggi kepada Musuh dan hari-harinya yang memilukan, kemunduran mereka sepanjang zaman, waktu dan tempat, kejahilan mereka terhadap berbagai permasalahan yang terus berubah dan berkembang, sehingga agama terlupakan, umat ternina bobokan, Negara tercabik-cabik, hancur seperti kerajaan Saba, sementara umat manusia menduga bahwa permasalahannya telah selesai, dan kemuliaan ini telah hilang selamnaya, sementara orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya sakit:

مَّا وَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا

“Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak memberikan janji kecuali hanya tipu belaka”. (Al-Ahzab:12)

Namun Allah swt yang Maha tinggi dan Maha Besar, pemilik risalah dan Al-Qur’an yang menjamin dan memlihara, seperti dalam ayat-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya”. (Al-Hijr:9),

dan berjanji akan melindungi pemiliknya :

إِنَّ اللهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya Allah akan membela orang-orang yang beriman”. (Al-Hajj:38),

dan disebutkan bahwa hal tersebut merupakan sunnatullah dalam ciptaannya:

حَتَّى إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَن نَّشَاءُ وَلاَ يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

“Sehingga apabila Para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada Para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa”. (Yusuf:110)

Seruan!!

Wahai umat Islam…

Merubah satu kondisi tidaklah mustahil, dihadapan kalian adalah taujih robbani (Al-Qur’an Al-Karim) yang selalu mengingatkan kalian dengannya bulan Ramadhan, kalian berbuatlah agar kalian menggapai kemenangan dan keberuntungan, dan dihadapan kalian sejarah perjalanan insan yang sempurna yang melaluinya telah menyelamatkan dunia yaitu Nabi Muhammad saw; karena ikutilah jejak langkahnya agar kalian mendapat rahmat, dan dihadapan kalian juga ada “Ikhwanul Muslimin” yang selalu menyeru untuk kembali kepada kitabullah dan mengikuti jejak langkah sirah Rasulullah melalui kitab ini, karena itu tidak ada alasan bagi setiap orang setelah ini akan hakikat ini.

والله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

Shalawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad saw, beserta keluarganya dan para sahabatnya.

Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.